News  

Peduli Air Tanah, BWS Kalimantan I Pontianak Rangkul Komunitas dan Mahasiswa

Peduli Air Tanah, BWS Kalimantan I Pontianak Rangkul Komunitas dan Mahasiswa
Peduli Air Tanah, BWS Kalimantan I Pontianak Rangkul Komunitas dan Mahasiswa. Foto/ISTIMEWA.

PONTIANAK, SATUNUS.ID – Dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat tentang air tanah, Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan I Pontianak menggelar diskusi bersama komunitas peduli sungai, lingkungan dan Mahasiswa bertempat di Golden Tulip, Kota Pontianak pada Kamis, 21 April 2022.

Kegiatan tersebut merupakan rangkaian dari peringatan Hari Air Dunia ke-30 yang bertujuan untuk mengetahui dan meningkat kesadaran manusia tentang pentingnya pelestarian air tanah.

Ketua Pelaksana Ali Assegaf, ST., M.Sc., mengatakan, diskusi ini adalah sebagai wujud nyata sekaligus mengajak komunitas peduli sungai, lingkungan dan Mahasiswa untuk penambahan knowlage tentang pentingnya air tanah, karena selama ini yang menjadi pembahasan adalah air permukaan.

“Banyak sekali komunitas maupun Mahasiswa yang ingin menambah pengetahuan terkait air tanah khususnya di Provinsi Kalimantan Barat. Oleh karena itu, diskusi ini menghadirkan para narasumber seperti Wakil Ketua HATHI Kalbar, Akademisi Fakultas Teknik Untan, dan warga desa yang menceritakan pengalamannya penggunaan air tanah selama ini,” ujarnya saat diwawancara di Pontianak, Kamis (21/04/22).

Selanjutnya, Ali Assegaf berharap kegiatan tersebut bisa membuat masyarakat semakin sadar tentang pentingnya pelestarian air tanah dan berharap kedepannya dapat turut serta melestarikan.

Senada dikatakan Bhudi Purwokerto, ST., MT., Akademisi Fakultas Teknik Untan menyampaikan, potensi air tanah di Kalbar cukup banyak. “Kalau kita lihat dari peta CATnya itu mulai dari Kapuas Hulu, Sintang, sampai pantai barat. Hanya saja kalau untuk air bersih mungkin perlu sedikit perolahan”.

“Kedepannya perlu dilakukan eksplorasi detail untuk mengetahui seberapa besar potensi yang ada sehingga bisa dimanfaatkan secara lebih maksimal lagi,” ungkapnya.

Bhudi menambahkan banyak strategi dan metode untuk mengolah air yang kurang layak dan kemudian bisa menjadi layak atau bisa digunakan sehingga menghilangkan elemen-elemen yang kurang baik.

“Untuk menjaga air tanah, maka fungsi serapan itu harus dijaga sehingga penjagaan terhadap hutan-hutan yang sekarang masih ada itu sangat penting,” pungkasnya.